Jendela Kenangan

Tahu tidak?

Aku ingin sekali punya sebuah jendela di kamar

Setiap saat aku bisa keluar masuk

Tanpa harus melewati pintu,

Melarikan diri, kemudian kembali

tanpa seoranpun yang tahu.

Jika hujan

Aku bisa menampung air mataku sendiri

Agar tak lagi terlihat menangis.

Sebuah jendela

Yang menghubungkan aku pada dunia

Tempat hal-hal lain bersemayam

Dan tentu hanya aku yang menyaksikan

Atau sekedar mengajak seseorang masuk

Untuk menghibur sepi yang sudah lama

duduk di pojok.

Pernah suatu hari, aku bermimpi

Tidur di dekat jendela

Dan terbangun ketika seorang anak menangis

Karena layang-layangnya tersangkut antena.

Aku berfikir layang-layang selalu membawa kabar berita

Karena ia lama terbang di angkasa

Lalu turun jika merasa kalah dengan angin.

Jika saja waktu dan kenangan adalah sebuah layang-layang

Akan ku gulung benang-benangnya

Dan ku gunting bagian yang tak ku suka

sebab kenangan punya banyak cara

untuk menjerat, lalu membunuh

hanya ada dua pilihan

membuatnya jinak

atau mati sejenak.

By palestina bila

SURAT DARI AYAH

Di sampingmu, 06 Januari 2050

Kepada Istri dan Anakku

Salam,

Aku juga ingin menulis-membaca surat seperti apa yang kalian lakukan.

Perkenalkan nak, ini ayahmu! Laki-laki yang bersedia rahim istrinya kau huni, laki-laki yang merasa cemburu setelah istrinya beralih perhatian terhadapmu. Kelak kau harus menanggung semuanya nak, kau harus memanggilku ayah.

Sayang, beberapa hari kau susah tidur, lihatlah ada kantung di bawah matamu, berhentilah membaca dan menulis jika matamu lelah. Seharusnya kau tak perlu bersusah payah memikirkan bumimu. Memang beginilah adanya.

Nak, kuakui kau adalah anak yang hebat melebihiku. Dulu untuk mendapatkan tempat di hati ibumu saja, aku bersusah payah. Merayunya bertahun-tahun. Sedangkan kau datang tiba-tiba dan langsung saja membangun rumah, menyusun tembok hingga kokoh. Dan dia bahagia bukan main.

Sungguh kau bukan anak kecil biasa!. Ini terlalu cepat untuk sebuah panggilan ‘sayang’ untukmu, padahal dulu, aku butuh waktu bertahun-tahun untuk mendapatkan panggilan itu. Aku menjadi heran, mengapa begitu cepat kau bisa menakhlukkan hatinya.

Sayang, berhentilah meracau tentang iklim, cuaca, udara, pohon, air, dan apapun yang memang semuanya telah berubah. Sabarlah, para ilmuwan sedang mencari jalan keluar, meskipun kau sering mengatakan bahwa manusia tidak bisa membuat air dan udara. Tapi aku tidak akan pernah berhenti meyakinkanmu, meski aku sendiri tidak pernah yakin. Tapi kau masih punya aku sayang, aku akan tetap menjagamu meski bumi sudah lama meninggalkan kita.Kau harus percaya itu.

Sayang, kau harus berhenti bekerja mulai saat ini, upah di perusahaanmu tidak menyelesaikan masalah. Sebotol air mineral dan makanan sintetis hanya membuat kesehatanmu terganggu, aku akan bekerja lebih keras, dan menabung untuk membeli bibit-bibit kaktus, tanaman ini tidak membutuhkan banyak air jadi mudah untuk merawatnya. Belajarlah di rumah, carilah informasi bagaimana mengolah tanaman itu menjadi makanan sehat, karena aku percaya Tuhan tidak pernah menciptakan segala hal dengan sia-sia. Aku mohon jadilah istri yang baik untukku.

Tadi malam aku bertengkar dengan ibumu nak, namun sebenarnya itu sebuah pertengkaran kecil. Aku khawatir dengan ibumu nak, jadi kumohon jangan membuatnya stres dan membuatnya mual setiap pagi dan malam. Meskipun dia tak merasa keberatan, tapi janganlah kau lakukan itu. Aku akan merelakan semuanya meskipun kau akan mengambil segalanya milikku.

Rahim dan bumi adalah tempat yang sama-sama baik jika kita sadar menjaganya.

Salam
Ayah

*Palestina Bila

By palestina bila

SURAT DI MASA LALU

Bumi, 1 Januari 2050
Kepada anak-anakku
Salam,
Nak, aku menulis surat ini padamu agar
kelak kau tak pernah menyesal, itu saja.
Nak,
Aku membayangkan sedang hidup ditahun
2050 bersamamu dan juga ayahmu, dimana
semua manusia telah mengalami krisis
sumber daya alam, dan banyak ilmuan
bekerja mencari jalan keluarnya.
Setiap hari Ibu harus menangis dan
meminum air mata sendiri, hal ini ibu
lakukan agar kau yang masih ada dalam
rahim tak pernah merasa kehausan. Nak,
ibu merasa sangat khawatir jika tiba-tiba
ibu merasa sesak seperti kemarin. Ayahmu
sedang berusaha agar aku dan kau baik-
baik saja. Tapi nak, disini pemerintah
membuat pajak atas udara yang akan kita
hirup, 137 meter kibik per orang perhari
atau sama dengan 31 galon. Bagi siapa
yang tidak bisa membayar, akan
dikeluarkan dari kawasan ventilasi yang
dilengkapi dengan peralatan paru-paru
mekanik raksasa bertenaga surya yang
menyuplai oksigen. Kau tahu nak, air dan
udara menjadi barang yang sangat langka
dan berharga.
Tidak ada lagi pohon yang tumbuh, karena
hujan tak pernah tandang, kalaupun
datang, pasti hujan asam. Apalagi
perubahan iklim terjadi secara global dan
sangat drastis, mungkin akibat efek rumah
kaca ditahun-tahun sebelumnya.
Setiap pagi Ibu harus membersihkan diri
hanya dengan tisu basah, berangkat untuk
bekerja demi sebuah upah yang sangat
dramatik, sebotol air minum dan
sebungkus makanan sintetis per harinya.
Tubuh ibu sangat menyedihkan,semoga
kau tidak. Karena sinar matahari pada saat
ini tak ada yang menjaga, lapisan ozon
dan atmosfir bumi semakin habis.Ibu akan
tetap menjagamu dengan sekuat tenaga,
rahim ibu tak selemah bumi nak,
tenanglah!.
Ibu tidak kuasa melanjutkan surat ini, ibu
membayangkan jika suatu ketika kau
bertanya
“bu, mengapa air dan udara susah
didapat?”
Nak, sebenarnya ibu adalah generasi yang
sebenarnya menyebabkan semua itu, dan
ibu tahu akan hal itu! ,tapi entahlah.
Padahal saat itu masih ada kemungkinan
untuk merubah semuanya
salam,
Palestina Bila

By palestina bila

MEMBALAS SURAT IBU

Rahim, 3 Januari 2050
Kepada Ibuku
Di Bumi
Salam,
Ibu, sudah kuterima dan kubaca surat nya, aku ikut
prihatin dengan bumi, dimana akan menjadi tempat
tinggalku kelak.
Sebenarnya bu, kalau boleh aku memilih, aku ingin
tetap di rahim ibu saja. Tempat yang paling aman dan
menyenangkan.Di sini waktu berputar sangat cepat,
satu detik di alam rahim sama dengan satu menit di
bumi, berarti satu menit disini sama dengan satu jam
disana, ini sangat menyenangkan.
Di rahim aku bisa melakukan apapun yang aku mau
tanpa takut kehabisan ataupun kekurangan. Aku bisa
tidur, melamun, menendang dan memukul, makan,
mencari tahu rahasia dan mengobrol. Sayangnya, aku
hanya boleh berada di sini selama sembilan bulan, lima
jam, tiga puluh dua menit, empat puluh lima detik.
Aku tidak akan banyak bercerita tentang rahimmu bu,
karena semua orang yang telah berada di bumi sudah
pernah di rahim, nanti surat ini jadi tidak menarik. Aku
lebih bersemangat mengabarkan pada Ibu tentang
usiaku yang memasuki tiga puluh tiga minggu, dan apa
saja yang bisa aku laklukan di sini.
Otakku tumbuh semakin besar, dan sel-sel sarafnya
terhubung sempurna dan aktif. Ibu bayangkan saja, apa
yang sedang aku pikirkan. Pastinya aku tidak seperti
Ibu yang sedang menyesali sikap manusia dan tempat
huninya. Itu sangat membosankan. Menyesali apa yang
pernah terjadi. Ada hal lain yang lebih membuatku
bahagia.
Aku senang mendengarkan ketika Ibu dan Ayah
mengaji, surat Maryam, Yusuf dan ayat-ayat suci Tuhan
yang lain. Entah apa sebabnya, hatiku terasa damai.
Lalu aku akan tertidur dan bermimpi yang sangat indah.
Pergi ke bulan, jalan-jalan ke surga, makan permen,
main bola, ah . . . .aku bahagia bu. Oh iya bu, bisahkan
kau menolongku untuk mencubit pipi Ayah?,
sampaikan maaf padanya, karena telah berani merebut
istrinyadan membangun rumah di rahimnya.
Bu, sebenarnya rahimmu terbuat dari apa, mengapa hal-
hal menakjubkan terjadi di sini?. Asal Ibu tahu, aku
sangat merindukanmu, Di dalam sini begitu banyak
sekali air (cairan amnion) bu, tidak seperti di bumi yang
kata ibu air susah di dapat. Di depan, belakang,
samping semua air bu, aku dikelilingi air namun
anehnya aku bisa melihat di dalam air dan tidak pernah
merasa tenggelam.
Rahim adalah tempat yang hebat bu, karena itu aku
ingin di sini saja.
Salam rinduku
Bayimu
*Palestina Bila
Tulisan ini saya dedikasikan untuk saudaraku Bidan
Alivia Sasa Muda, Sahabatku Bunga Hidayatillah, Ema
Ulwahyuni, dan semua perempuan yang kelak akan
menjadi Ibu.

By palestina bila

Surat dimasa Lalu

Bumi, 1 Januari 2050

Kepada anak-anakku

Salam,

Nak, aku menulis surat ini padamu agar
kelak kau tak pernah menyesal, itu saja.

Nak,
Aku membayangkan sedang hidup ditahun
2050 bersamamu dan juga ayahmu, dimana
semua manusia telah mengalami krisis
sumber daya alam, dan banyak ilmuan
bekerja mencari jalan keluarnya.
Setiap hari Ibu harus menangis dan
meminum air mata sendiri, hal ini ibu
lakukan agar kau yang masih ada dalam
rahim tak pernah merasa kehausan. Nak,
ibu merasa sangat khawatir jika tiba-tiba
ibu merasa sesak seperti kemarin. Ayahmu
sedang berusaha agar aku dan kau baik-
baik saja. Tapi nak, disini pemerintah
membuat pajak atas udara yang akan kita
hirup, 137 meter kibik per orang perhari
atau sama dengan 31 galon. Bagi siapa
yang tidak bisa membayar, akan
dikeluarkan dari kawasan ventilasi yang
dilengkapi dengan peralatan paru-paru
mekanik raksasa bertenaga surya yang
menyuplai oksigen. Kau tahu nak, air dan
udara menjadi barang yang sangat langka
dan berharga.
Tidak ada lagi pohon yang tumbuh, karena
hujan tak pernah tandang, kalaupun
datang, pasti hujan asam. Apalagi
perubahan iklim terjadi secara global dan
sangat drastis, mungkin akibat efek rumah
kaca ditahun-tahun sebelumnya.
Setiap pagi Ibu harus membersihkan diri
hanya dengan tisu basah, berangkat untuk
bekerja demi sebuah upah yang sangat
dramatik, sebotol air minum dan
sebungkus makanan sintetis per harinya.
Tubuh ibu sangat menyedihkan,semoga
kau tidak. Karena sinar matahari pada saat
ini tak ada yang menjaga, lapisan ozon
dan atmosfir bumi semakin habis.Ibu akan
tetap menjagamu dengan sekuat tenaga,
rahim ibu tak selemah bumi nak,
tenanglah!.
Ibu tidak kuasa melanjutkan surat ini, ibu
membayangkan jika suatu ketika kau
bertanya
“bu, mengapa air dan udara susah
didapat?”
Nak, sebenarnya ibu adalah generasi yang
sebenarnya menyebabkan semua itu, dan
ibu tahu akan hal itu! ,tapi entahlah.
Padahal saat itu masih ada kemungkinan
untuk merubah semuanya

salam,
Palestina Bila

By palestina bila

Tentang Siapa Dia

—Aku membayangkan pada suatu senja, lelaki itu mengajakku melihat matahari tenggelam. Dan mengecup keningku pelan-pelan.

—Aku membayangkan pada suatu hari, aku sedang sibuk keluar masuk dari boutique bersama ibunya. Memilih satu persatu gaun terbaik yang akan kukenakan nantinya. Mendengar bunyi ritsleting tiap beberapa menit sekali, kedua pipiku memerah karena kelelahan, tapi ibunya terus tersenyum membantu memilih gaun paling indah.

—Aku membayangkan di saat yang sama dan tempat yang berbeda.Ayahku menepuk pundaknya, dan berterima kasih kepadanya karena telah mencintai putrinya setulus hati.

—Aku membayangkan aku berjalan dengan anggunnya, menggamit lengan ayah dan ibu perlahan-lahan dengan lembut beribu-ribu doa berterbangan memenuhi udara, semoga bahagia selamanya, dan aku mulai mengambil langkah pertama untuk menuju hidup baru. Bersama lelaki yang menjanjikan seumur hidupnya padaku. Di sekelilingku terlihat teman, sahabat, kenalan, dan keluarga berdiri dari bangku mereka dan melempar senyumnya.

—Aku membayangkan, lelaki itu ada diujung sana, berdiri dengan tegap di dekat ayah dan ibunya menyunggingkan senyum terbaiknya, senyum yang selalu membuat lututku lemas. Dia, lelaki yang berhasil membuat ayahku menyerahkan putri kesayangannya dan kelak akan menjadi ayah dari cucu-cucu ayahku.

—Aku membayangkan aku menggengam tangan lelaki itu erat, sampai kami tidak tahu genggam ini terlepas.

Palestina Bila
Sep 2012, Setalah ibuku bilang, umurku sudah 22 tahun.

By palestina bila

Percakapan

Dalam percakapan aku dan ibuku.

Ibu  : sekarang ulang tahunmu nduk! Gak nyangka umurmu uda 22 tahun.

Aku  : ibuk pengen lihat aku merantau sendiri atau menikah?

Ibu  : menikah nduk, menikah muda itu bijak untuk anak-anakmu kelak.

Aku  : aku nikahnya pengen 2 atau 3 tahun lagi buk!

Ibu  : sudah waktunya, 23 itu usia yang baik untuk menikah.

Aku   : diam

Sep 2012, Rbg

By palestina bila

kembalikan hujan pada musimnya

KEMBALIKAN HUJAN PADA MUSIMNYA

Sampai tak ada yang sempat bertanya
Mengapa hujan tiba-tiba reda
Kita sudah lama mengerti
Semua akan datang dan pergi tiba-tiba.

Kembali pada rindu
Panjang dan membuat cemas
Menyerupa titik-titik air yang rapuh.

Gerimis kecil di dalam dada kita
Melahirkan serbuk-serbuk hujan
Yang tercecer dari arah mana saja.

Buatlah sajak lagi
Entah untuk siapapun
Agar musim tak salah paham pada kita.

Rembang,antara juni-juli 2013

By palestina bila

Renjana

Dinda, aku tahu
bahwa kebetulan jantungmu
tertembus anak panahku
aku juga sudah lama jatuh cinta
diantara sengaja dan tidak sengaja
ku rasa tak ada batasnya
Kau telah salah kanda,
sudah lama aku bersahabat dengan kenyataan
dan diam-diam merindukanmu
“apa kita perlu menunggu malam?
lantas menggeret perahu kita ke tepi?” katamu.
angin mulai meniupkan nafsu kita
rindu ini telah lama menggumpal
hingga melahirkan kecemasan
pada rerintik hujan.
“ya, hujan telah lama menyampaikan pesan kita kepada
tuhan”.
Kamar, 30 Maret 2012
*semacam mencintai

Palestina Bila

By palestina bila